Luwu Timur

PT Vale: 65 Persen Lahan Bekas Tambang Sudah Direklamasi, Lebih dari 5 Juta Pohon Ditanam

×

PT Vale: 65 Persen Lahan Bekas Tambang Sudah Direklamasi, Lebih dari 5 Juta Pohon Ditanam

Sebarkan artikel ini
PT Vale: 65 Persen Lahan Bekas Tambang Sudah Direklamasi, Lebih dari 5 Juta Pohon Ditanam

LUWU TIMUR, inspirasiupdatenews.com —PT Vale Indonesia Tbk terus memperkuat komitmennya dalam reklamasi lahan bekas tambang dengan pendekatan berkelanjutan dan partisipatif. Hingga April 2025, perusahaan telah mereklamasi sekitar 3.800 hektare dari total bukaan tambang seluas 5.900 hektare, atau setara 65 persen.

Pernyataan ini disampaikan oleh Nismayani, engineer di bidang reklamasi PT Vale, dalam sesi kunjungan lapangan bersama puluhan jurnalis dari berbagai daerah, Sabtu (26/7/2025).

“Reklamasi bukan hanya sekadar menanam pohon, tapi dimulai dari penataan lahan, penimbunan bekas lubang tambang, pembentukan kontur, hingga revegetasi,” kata Nismayani di area nursery reklamasi.

Proses Reklamasi Dilakukan Bertahap

Menurutnya, tahap pertama dimulai saat area tambang sudah tidak lagi digunakan. Lokasi tersebut ditimbun kembali menggunakan material tanah yang tidak mengandung unsur ekonomi, lalu dibentuk ulang kontur lerengnya agar stabil dan aman untuk ditanami.

Setelah itu, dilakukan pengendalian erosi melalui pembangunan saluran drainase menggunakan kombinasi batu dan geomate—material sintetis berwarna hijau yang juga memperindah tampilan lanskap.

Selanjutnya, dilakukan penghamparan tanah pucuk atau topsoil, yaitu tanah lapisan atas yang disimpan sejak awal proses tambang. Tanah ini diperkaya dengan kompos organik hasil kerja sama dengan masyarakat sekitar, dengan dosis penggunaan mencapai 16 ton per hektare.

Lebih dari 5,1 Juta Pohon Telah Ditanam

PT Vale mencatat bahwa hingga saat ini telah ditanam lebih dari 5,1 juta tanaman di area reklamasi. Tanaman yang digunakan terbagi atas dua jenis utama: tanaman pionir dan tanaman lokal atau endemik, dengan proporsi 40 dan 60 persen.

Jenis pionir yang ditanam antara lain johar, kayu angin, eucalyptus, sengon buto, suren, dan beringin. Tanaman pionir ditanam terlebih dahulu karena mampu tumbuh tanpa naungan, dan berfungsi membentuk mikroklimat yang mendukung pertumbuhan tanaman lokal pada tahap berikutnya.

“Tanaman lokal membutuhkan kondisi yang lebih teduh, jadi tidak bisa langsung ditanam bersamaan dengan pionir,” jelasnya.

Pemeliharaan Berkelanjutan Hingga Pengayaan

Setelah penanaman, perusahaan melakukan pemeliharaan rutin setiap tiga bulan. Kegiatan ini meliputi pemupukan ulang, penyulaman pohon mati, dan pembersihan gulma. Pemeliharaan berlangsung hingga tanaman dinilai mampu tumbuh mandiri, umumnya dalam waktu dua hingga tiga tahun.

Memasuki tahun ketiga, PT Vale juga melakukan pengayaan dengan menanam pohon multiguna seperti pohon kayu keras dan tanaman bernilai ekonomi lainnya.

“Kami tidak hanya menanam dan meninggalkan, tapi memastikan tanaman tumbuh sehat dan lahan benar-benar pulih secara ekologis,” kata Nismayani.

Kunjungan Media Jadi Wujud Keterbukaan

Sekitar 50 jurnalis dari berbagai media lokal dan nasional hadir dalam kunjungan tersebut. Mereka diajak meninjau langsung proses reklamasi dan area nursery PT Vale yang menampilkan tahapan rehabilitasi lingkungan dari awal hingga akhir.

Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen keterbukaan informasi perusahaan dalam pengelolaan tambang yang berwawasan lingkungan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *